Friday, October 31, 2008

Jenis / Macam Tanah Di Indonesia

By godam64 ; http://organisasi.org

Indonesia adalah negara kepulauan dengan daratan yang luas dengan jenis tanah yang berbeda-beda. Berikut ini adalah macam-macam / jenis-jenis tanah yang ada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

1. Tanah Humus

Tanah humus adalah tanah yang sangat subur terbentuk dari lapukan daun dan batang pohon di hutan hujan tropis yang lebat.

2. Tanah Pasir

Tanah pasir adalah tanah yang bersifat kurang baik bagi pertanian yang terbentuk dari batuan beku serta batuan sedimen yang memiliki butir kasar dan berkerikil.

3. Tanah Alluvial / Tanah Endapan

Tanah aluvial adalah tanah yang dibentuk dari lumpur sungai yang mengendap di dataran rendah yang memiliki sifat tanah yang subur dan cocok untuk lahan pertanian.

4. Tanah Podzolit

Tanah podzolit adalah tanah subur yang umumnya berada di pegunungan dengan curah hujan yang tinggi dan bersuhu rendah / dingin.

5. Tanah Vulkanik / Tanah Gunung Berapi

Tanah vulkanis adalah tanah yang terbentuk dari lapukan materi letusan gunung berapi yang subur mengandung zat hara yang tinggi. Jenis tanah vulkanik dapat dijumpai di sekitar lereng gunung berapi.

6. Tanah Laterit

Tanah laterit adalah tanah tidak subur yang tadinya subur dan kaya akan unsur hara, namun unsur hara tersebut hilang karena larut dibawa oleh air hujan yang tinggi. Contoh : Kalimantan Barat dan Lampung.

7. Tanah Mediteran / Tanah Kapur

Tanah mediteran adalah tanah sifatnya tidak subur yang terbentuk dari pelapukan batuan yang kapur. Contoh : Nusa Tenggara, Maluku, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

8. Tanah Gambut / Tanah Organosol

Tanah organosol adalah jenis tanah yang kurang subur untuk bercocok tanam yang merupakan hasil bentukan pelapukan tumbuhan rawa. Contoh : rawa Kalimantan, Papua dan Sumatera.

Read More......

Ketika Air Tanah Indonesia Terancam Arsenik

By nggienghttp://langitselatan.com

Danau_kakaban1 Masih ingat kasus Munir, tokoh pembela HAM yang harus mati diracun arsenik? Arsenik adalah zat yang sangat beracun, yang tidak berbau dan tidak berasa; sehingga sangat berbahaya bila dikonsumsi oleh manusia, terutama bila tercampur pada air minum. Tetapi bagaimana bila arsenik kemudian beredar bebas di alam?

Studi terkini dalam Journal Nature Geoscience menunjukkan bahwa, ancaman arsenik telah mengkontaminasi beberapa wilayah di Asia Tenggara! Dari studi di delta Irrawady di myanmar dan pulau Sumatra, Indonesia, ditemukan bahwa air bawah tanah di daerah tersebut telah terkontaminasi oleh arsenik.

Studi geologi menggunakan fitur-fitur geologi dan unsur kimiawi tanah, peneliti telah memetakan beberapa titik panas yang didugan menjadi daerah resiko arsenik. Dari analisis diperkirakan ada sekitar satu juta hektar pantai timur Sumatra berisiko tercemar arsenik. Daerah yang kaya akan sedimen organik yang mengandung pasir halus sedimentasi (silt) dan tanah liat mempunyai kecenderungan untuk mudah terkontaminasi oleh arsenik. Karena merupakan sedimentasi muda yang mungkin sekali melepaskan arsenik dari dalam material sedimentasinya.

Informasi ini diharapkan menjadi perhatian bagi pihak berwenang dalam mempersiapkan sumur-sumur atau fasilitas air yang harus memperhatikan resiko tinggi kontaminasi arsenik. Sampai saat ini studi arsenik masih sangat sulit dilakukan karena biayanya sangat tinggi dan memakan waktu yang panjang. Sampai saat ini studi yang dilakukan adalah melakukan pemetaan geologi permukaan yang mengidentifikasi pada air tanah yang dangkal, tetapi belum bisa mengatakan seberapa dalam arsenik dalam air tanah.

disarikan dari: Physorg

Read More......

Tuesday, October 28, 2008

Biopore, Recharges Groundwater and Humus

Monday, 20 Octobers 2008 | 21:21 Western Indonesian Times

YOGYAKARTA, Rain drop is not good if let it flow into river or aqueduct, because actually can be accommodated as ground water supply. Based on it, simple innovation namely "Lubang Resapan Berpori", developed by Biopore Team, Yogyakarta.

2678984p

Team member that are from Care Environment Society, RW 11 Wirobrajans, Yogyakarta. Monday (20/10) afternoon presented gathering dialogue with citizen, and demonstrated of making "Lubang Resapan Berpori (LRB)".

LBR are made by manual drill trough the ground about one metre depth. Here in after at top section of hole, placed small circle concrete, or precisely in one size conblock hexagon cement. Precise above concrete is attached iron stick as filter.

LBR are here in after filled by organic garbage to push biopore in form of cave (small tunnel; cutting) that formed by ground fauna or plants root activities. At the rain season, as soon as water entered hole, it will hit organic garbage. Process here in after; garbage is collected as harvest on dry season as plants manure.

Coordinator Biopore Team, Endarwati said, LRB is used as artificial recharge well. Differ from conventional recharge that only absorbed in elementary part, LBR can soak up water into the wall.

Its cost of making even also very cheap. One LRB only finishes at most 20.000 rupiahs. To drill manual, the team find one with the price of 200.000 rupiahs.

At least, coneblock and aeral cement in backyard or front yard can be alternated LBR. Distance between LRB at least one meter, he said.

Endarwati said, the idea of making LRB is conducted after they followed World Water Day Seminar. In RW 11, LRB has been existed in more than 100 houses.

Compas.com

Read More......

Thursday, June 5, 2008

Apa Itu Air Tanah ?

By M. Taufik

Mungkin kita mengira2, bahwa air tanah itu selalu ada terus di bumi…dan tidak akan pernah habis…yah itu mah kata pikirannya anak kecil…heheh…sedangkan para pembaca sudah gede semua khan???…pasti tahulah air tanah itu akan habis bila kita kurasss terus…hehe…tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian dari kita hanya mengetahui air tanah secara umum kali yahh…nah saya ingin berbagi cerita mengenai air tanah ini…apaan tuh air tanah ? kata orang gaul…

Oke saya akan berbagi cerita mengenai air tanah dari dasarrrr banget…lumayan buat nambah ilmu juga tahu cara manajemen dan pelestariannya…khan bisa menyelematkan bumi dari kebinasaan, ciyehhh kata orang lingkungan…hehe…

Oke kita mulai, nanti kalo ada yang ga ngerti unjuk jari yah…telunjuk yah jangan yang lain…hehe

Apa itu Air Tanah ?

Ga tahu yah…gini..air tanah adalah ketika hujan membasahi bumi dengan lembut dan menghilangkan dahaga ketika panas mencekram, air nya itu begitu tidak berhenti begitu saja khan ?alah udah pada tahu semua. Sebagian itu mengalir di permukaan bumi sampai ke sungai atau danau atau sumur atau wc (kalo wc nya kebuka atapnya loh) dan lain2 lah…sebagian diserap tanaman pete atau toge dan tanaman lainnya, sebagian terevaporasi lagi ke atmosphere (baca :atmospir), juga sebagian menyerap ke tanah nyak dan babeh semua orang. Nah gambarannya seperti menyiram segumpal pasir dengan segelas air sirup..(nelen ludah)…

Ketika air merembes ke dalam tanah, sebagian bertaut pada partikel tanah atau akar tumbuhan di bawah permukaan. Nah itu bagus tuh buat tanaman buat tumbuh berkembang jadi besar dan beranak pinak..air yang tidak ketangkep sama tumbuhan itu bergerak lebih dalam lewat rekahan tanah atau pasir dan ruang yang ada di bawah sampai lapisan batuan yang air tersebut tidak bisa bergerak lagi alias mentok. Lalu air tersebut mengisi rekahan atau space yang tersedia di atas lapisan batuan tahan air tersebut. Batas atas air tersebut disebut “water table alias muka air tanah…lalu air tersebutlah yang disebut air tanah (groundwater)…begitu ceritanya bapak2 dan ibu2, sus dan bro…ngerti kan ? alah udah pada tahu semuanya….baguslah kalo begitu…

Nah penambahan air tanah itu dari hujan yang turun menyerap ke tanah disebut “recharge water” alias di cas lagi air tanah yang ada..(kaya hp).pengecasan air tanah bisa juga dari saluran air buatan manusia yaitu selokan2 yang bocor dan irigasi2 untuk pengairan para petani dan pekebun…

Kira2 seberapa dalam itu air tanah ? that’s a good question…air tanah dalamnya tergantung dari jumlah air yang masuk ke dalam tanah, jadi tidak tentu, bisa dalam atau juga bisa dangkal. Naik turunnya air tanah juga tergantung beberapa factor, yaitu curah hujan di suatu wilayah apabila tinggi bisa menaikan muka air tanah juga apabila musim kemarau yang curah hujannya rendah bisa menurunkan muka air tanah, contoh gampangnya lihat aja sumur2 penduduk atau sumur di rumahmu, kira2 berapa dalamnya muka air di dalam sumur itu….gampang kan…

Bila lihat gambar di atas, ada istilah “aquifer”, mungkin pembaca bertanya2, apa itu aquifer ?

Aquifer adalah suatu lapisan batuan atau tanah yang mana air tanah dapat bergerak dengan mudah. Seberapa mudahkah air tanaha bergerak didalam sana ? itu tergantung dari seberapa besar ruang yang ada di dalam suatu aquifer tersebut dan seberapa banyak koneksi antar ruang tersebut…kalo ruangnya besar kaya kamar ya gampang bergerak kan, terus koneksi antar kamarnya besar, lebih gampang lagi bergerak sana sini kalo, apalagi kalo kebelet bisa2 tembok juga ditabrak…heheh..besarnya ruang untuk air tanah itu disebut porositas dan banyaknya koneksi antar ruang tersebut disebut permeabilitas

Gimana sih keadaan ruang di dalam tanah tersebut (aquifer) ? apa besar kaya kolam atau kecil kaya aquarium ?...heheh lucu pertanyaanya…

Okelah kalo begitu, ruangan di dalam tanah atau batuan tersebut (aquifer) terdiri dari gravel, pasir, batupasir atau batugamping yang banyak lubangnya…gravel ?iya gravel itu batuan yang besar2, sebesar kepalan tangan sampai sebesar rumah kali yah…kalo pasir dan batupasir bedanya apa ? ya jelas beda, kalo batupasir itu pasir yang sudah terkompaksi alias menyatu butirannya jadi batu, kalo pasir ya belumlah jadi batu, masih material kecil2 buat nembok rumah…material2 itu punya permeabilitas yang bagus, karena ada ruang diantara butiran2nya itu॥ngarti ora ?jadi ada pori2 nya gitu loh…nah kalo di batugamping disebut rekahan, bisa dilihat di bawah ini…

Bila lihat gambar itu ada istilah permeable dan impermeable, itu kata si mbah, bila permeable itu yang pori2nya berhubungan satu sama lain jadi air tanah tersebut bisa bergerak sesuka hati, ibarat di mall…kalo impermeable, pori2nya tidak berhubungan jadi sendiri2 aja, kaya di kos2an…heheh..contoh batuan yang impermeable ya batulempung alias tanah liat…kalo istilah yogya nya claystone dan shale.

Kalo gitu ngeluarin air tanahnya gimana ?good question bro and sus…

Ya bikin sumurlah atau dibor pake linggis gitu loh….lalu disedot pake pompa air, coba tanya ke toko kue pasti dia tahu..heheh..nah hati2 kalo terlalu banyak nyedot air tanah, bisa2 sumurnya kering, karena kebanyakan diambil, si air tanahnya turun ke bawah dasar sumur, jadi kering dech..makanya berhematlah dalam penggunaan air tanah…..hehe..istilah kate efektif dan efisien, jangan dibuang-buang buat hal2 yang tidak berguna…


Untuk air yang keluar lewat sumur dan keluar lewat sungai atau danau dari aquifernya disebut “discharge water”.beberapa jenis sumur yang disebut artesis itu air keluar tidak usah dipompa karena dia keluar sendiri karena perbedaan ketinggian dengan air yang berada di bagian aquifer atas menekan air di bagian bawah tersebut keluar sumur, . Enak kan kalo air tanah ga usah dipompa, bisa hemat pompa…heheh…makanya cari aja kira2 dimana kita bisa bor itu air tanah yang aquifernya pas di bagian paling rendah…Cuma saratnya batas atas dan bawah aquifer tersebut, batuannya impermeable alias kedap air…

Satu lagi pertanyaan, bisakah kita kehabisan air tanah ?

Jawabnya bisa, penjelasannya seperti ini apabila air tanah lebih banyak disedot atau keluar dari aquifer (discharge) daripada air hujan mengisi kembali air tanah tersebut (recharge) maka air tanah akan habis..bis..bis…misalnya pada musim kemarau, air tanah disedot habis2an karena kita pada kehausan sedangkan hujan tidak kunjung turun menyirami bumi….maka muka air tanah akan turun dan semakin dalam, pada akhirnya akan habis…sedih dech…ga bisa bikin sirup lagi dech…Air tanah juga akan tidak berguna bila terdapat polusi yang terkandung di dalamnya, seperti dimana polusi bisa menyerap ke dalam tanah sehingga mencampuri kemurnian air tanah. Hal tersebut bisa berasal dari buang sampah sembarangan dan zat2 kimia yang terserap ke dalam tanah, juga hasil limbah industry yang tidak bagus penanganannya, juga dari septic tank yang bocor, tangki bensin yang bocor, pestisida dan lain2…..bisa2 kita minum sirup pestisida dech…amit2…

Oleh sebab itu adalah tugas kita untuk menyelamatkan air tanah kita, minimal di sekitar rumah kita dulu, karena siapa yang mau minum aqua botol terus2an, mahal bo…heheh…bersihkan polusi yang bisa menyebabkan air tanah kita tercemari…(source : USGS Ground Water Information Pages)

SALAM PERDAMAIAN…



Read More......

Tuesday, July 17, 2007

Bandung Kotaku yang ga tau apa yang terjadi ntar padamu

By Imas Nurzanah

Kali ini saya lagi tertarik mengenai masalah Bandung, yang kebetulan merupakan tempat saya lahir dan dibesarkan, termasuk juga tempat saat ketemu suami hehehehe..Meskipun saya hanya sesekali pulang ke Bandung tapi saya masih merasa bandung itu darah daging saya yang gak mungkin bisa lepas dari kehidupan saya…

Kita ketahui Bandung itu merupakan suatu cekungan yang dahulunya berasal dari sebuah danau yang mengering tapi ada sebagian ahli geologi yang menyebutkan sebagai zona depresi diantara gunung – gunung.


Kebayang ga siy sekarang gimana beban cekungan Bandung, dimana penduduknya yang sudah mencapai 5.4 juta jiwa dan ratusan industri yang berkembang. Lambat laun keadaan ini akan membuat cekungan Bandung ini berubah.

Ada 2 kemungkinan yang akan terjadi jikalau keadaan ini tidak cepat diperbaiki yaitu masalah sumberdaya alam yang terbatas seperti masalah air tanah dan bahan galian dan juga masalah kebencanaan geologi seperti krisis air, gempa bumi, penurunan lahan dan banjir.
Meskipun banyak penelitian geologi (litologi, stratigrafi, tektonik) dan terapan (hidrogeologi air tanah, geoteknik, resapan dll।) telah dilakukan untuk memecahkan permasalahan di Cekungan Bandung, namun sebagian besar masih dilaksanakan secara sektoral dan terpisah-pisah sehingga belum dapat memberikan solusi menyeluruh terhadap permasalahan yang berkembang di Cekungan Bandung.

Salah satu permasalahan mendasar di Cekungan Bandung adalah kurang tersedianya data dan informasi bawah permukaan untuk melakukan analisis yang komprehensif terhadap perkembangan bentuk geometri cekungan maupun proses akumulasi sedimen pengisinya secara rinci। Akibatnya, genesa terbentuknya Cekungan Bandung belum diketahui dengan baik. Secara teoritis, proses-proses tektono-geodinamika yang berlangsung pada zaman Kuarter dipercaya sebagai penyebab terjadinya pergerakan batuan dasar yang pada akhirnya menentukan geometri cekungan. Oleh sebab itu, guna memperoleh perspektif lebih rinci tentang bentuk 3D cekungan dan batas-batasnya, maka penelitian batuan dasar cekungan dan urutan stratigrafi rinci sedimen pengisi cekungan secara akurat perlu dilakukan.

Untuk itu perlu adanya research yang lebih detail tentang Bandung apalagi di Bandung juga merupakan pusat dari ahli – ahli geologi seluruh Indonesia dimana mungkin dengan sedikit rasa cinta terhadap Bandung bisa menyelamatkan Bandung. Gimana ga was-was Bandung yang terkenal tempat rekreasi belanja harus ga berfungsi lagi karena masalah diatas.



Read More......

Abu Batubara Yang Berguna

By Imas Nurzanah

Pernah kebayang ga siy abu batubara yang tebal dan bikin polusi udara itu bisa dimanfaatkan loh!!!! Lumayan kan bisa daur ulang sampah hasil pemanfaatan batubara buat dijadikan bahan yang bermanfaat apalagi ini bisa menjadikan tanah yang bekas tailing penambangan emas menjadi tanah yang bisa ditanami.

Kita ketahui bahwa batubara merupakan sumber energi yg cukup berperan. Salah satu pemanfaatannya adalah untuk pembangkit tenaga listrik. Namun dari pemanfaatan ini jadi timbul masalah baru yaitu penumpukan abu batubara yang mana tiap harinya bisa mencapai 500 – 1000 ton. Limbah abu ini dapat berupa abu terbang, abu dasar dan lumpur flue gas desulfurization. Sekarang ini pemanfaatan abu batubara ini digunakan untuk industri semen dan beton, bahan pengisi untuk bahan tambang dan bahan galian serta berbagai pemanfaatan lainnya.

Penelitian yg sekarang sedang dilakukan oleh PPTM yaitu memanfaatkan abu batubara ini untuk mengelola tanah tailing yang berasal dari kegiatan pengolahan emas. Tailing tersebut diperkirakan bersifat basa dan banyak mengandung logam2 berat, sedangkan secara kimia abu batubara merupakan mineral alumino silikat yang banyak mengandung unsur Ca, K, dan Na dan juga mengandung sejumlah kecil C dan N. Bahan nutrisi lain dalam batubara yang diperlukan dalam tanah diantarnya ialah B, P dan unsur2 kelumit seperti Cu, Zn, Mn, Mo dan Se yang mana abu batubara ini dapat bersifat asam (pH 3 – 4) walaupun pada umumnya bersifat basa (pH 10 – 12).
Secara fisik abu batubara tersusun dari partikel silt yang mempunyai kapasitas pengikatan air dari sedang sampai tinggi, sifat – sifat pembentuk semen yang dapat menghambat perkembangan akar tanaman.

Dalam penelitian ini abu batubara digunakan sebagai bahan pembenah tanah (soil conditioner) dan sebagai bahan dasar untuk pembuatan zeolit sintetik yang juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembenah tanah. Namun demikian diperlukan parameter yang berpengaruh pada kualitas tanah itu sendiri.

Seru kan???? Makanya keep research ya biar sesuatu yang dianggap sampah masih bisa dimanfaatkan.


Read More......

Friday, June 1, 2007

Mari Menyelamatkan Air Tanah Di Pekarangan

AIR adalah bisnis besar. Wakil Presiden Bank Dunia Ismael Serageldin pernah berujar, jika berbagai perang pada abad ini nyaris selalu disebabkan oleh minyak bumi si emas hitam, perang masa depan akan dipicu oleh emas biru alias air. Satu dekade sejak ucapannya itu, krisis air di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, semakin nyata. Sebab itu, menyelamatkan air bukanlah upaya yang mengada-ada, dan bisa dimulai sejak di pekarangan rumah kita sendiri. Salah satu cara penyelamatan air secara sederhana adalah dengan membuat sumur-sumur resapan (peresap) air hujan.

Selain itu juga upaya holistik lainnya, yaitu dengan pendekatan vegetatif melalui reboisasi, perluasan hutan kota, taman kota, pembuatan waduk kecil atau embung, hingga pengelolaan sistem DAS (daerah aliran sungai) terpadu. Sebenarnya, dalam peraturan daerah seperti di DKI Jakarta telah ditetapkan bahwa pengajuan izin mendirikan bangunan (IMB) harus dilengkapi dengan pembuatan sumur resapan air. Namun, kenyataannya aturan itu tinggal torehan tinta di atas kertas. "Tidak ada sistem audit maupun sanksi yang dijatuhkan bagi pelanggarnya. Tidak hanya rumah-rumah tinggal yang berpekarangan, namun juga hotel, apartemen, pusat perbelanjaan, dan perkantoran. Mereka seharusnya membuat sumur-sumur resapan air sebaik-baiknya," ujar Dr Rosyid Hariyadi, MSc, ahli pengelolaan kualitas air (water quality management), yang juga peneliti pada Pusat Pengkajian Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Rosyid mengatakan, yang disebut sebagai sumur resapan adalah sumur gali yang berfungsi untuk menampung, meresapkan, dan mengalirkan air hujan yang jatuh di permukaan tanah, bangunan, juga atap rumah. Dengan adanya sumur resapan, air hujan bisa lebih efektif terserap ke dalam tanah. Rosyid, yang juga mantan anggota tim teknis sumur resapan DKI Jakarta, menambahkan, cara tradisional dahulu yang kerap dilakukan masyarakat di pedesaan untuk melestarikan air adalah dengan membuat lubang-lubang di sekitar tanaman atau pepohonan.

SEJUMLAH negara menaruh perhatian besar terhadap konservasi air. Di Singapura, air tetesan pendingin udara (AC) pun tidak dibiarkan sia-sia, melainkan ditampung lalu dimanfaatkan. Sedangkan bangunan-bangunan bertingkat di Jepang sudah sejak lama membangun sumur-sumur resapan untuk melindungi konstruksi tiang pancang besi bajanya dari pengaruh air asin akibat intrusi air laut. Di Jakarta, gedung pusat Indosat, misalnya, sejak awal tahun 1990 telah memiliki pengolahan air limbah gedung yang cukup baik sehingga hasil olahannya dapat dimanfaatkan.

Sebenarnya, dengan membuat sumur resapan, Anda seperti menabung air tanah. Sejumlah kawasan di Jakarta saat ini warganya terpaksa membeli air bersih untuk sekadar minum, mandi, dan cuci-mencuci karena air tanah di tempat tinggal mereka sudah tidak layak pakai, bahkan kering. Selain itu, manfaat sumur resapan ialah dapat menambah atau meninggikan permukaan air tanah dangkal (water table), menambah potensi air tanah, mengurangi genangan banjir, mengurangi amblesan tanah, serta mengurangi beban pencemaran air tanah.

Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang Tata Cara Perencanaan Sumur Resapan Air Hujan untuk Lahan Pekarangan, persyaratan umum yang harus dipenuhi adalah :

  1. Sumur resapan harus berada pada lahan yang datar, tidak pada tanah berlereng, curam, atau labil.
  2. Sumur resapan juga dijauhkan dari tempat penimbunan sampah, jauh dari "septic tank" (minimum 5 meter diukur dari tepi), dan berjarak minimum 1 meter dari fondasi bangunan.
  3. Bentuk sumur itu sendiri boleh bundar atau persegi empat, sesuai selera.
  4. kedalaman air tanah minimum 1,50 meter pada musim hujan.
  5. Penggalian sumur resapan bisa sampai tanah berpasir atau maksimal 2 meter di bawah permukaan air tanah.

Dengan teralirkan ke dalam sumur resapan, air hujan yang jatuh di areal rumah kita tidak terbuang percuma ke selokan lalu mengalir ke sungai. Air hujan yang jatuh di atap rumah sekalipun dapat dialirkan ke sumur resapan melalui talang. Sedangkan struktur tanah harus mempunyai permeabilitas tanah lebih besar atau sama dengan 2,0 cm/jam, dengan 3 klasifikasi.

  1. Permeabilitas tanah sedang (geluh kelanauan) 2,0-3,6 cm/jam.
  2. Permeabilitas tanah agak cepat (pasir halus), yaitu 3,6-36 cm/jam.
  3. Permeabilitas tanah cepat (pasir kasar), yaitu lebih besar dari 36 cm/jam.

Spesifikasi sumur resapan tersebut meliputi :

  1. Penutup sumur, dapat digunakan, misalnya, pelat beton bertulang tebal 10 sentimeter dicampur satu bagian semen, dua bagian pasir, dan tiga bagian kerikil। Dapat digunakan juga pelat beton tidak bertulang tebal 10 sentimeter dengan campuran perbandingan yang sama, berbentuk cubung dan tidak diberi beban di atasnya. Dapat digunakan juga ferocement setebal 10 sentimeter.
  2. Dinding sumur bagian atas dan bawah, sedangkan untuk dinding sumur bagian atas dan bawah dapat menggunakan buis beton. Dinding sumur bagian atas juga dapat hanya menggunakan batu bata merah, batako, campuran satu bagian semen, empat bagian pasir, diplester dan diaci semen.
  3. Pengisi sumur, sementara pengisi sumur dapat menggunakan batu pecah ukuran 10-20 sentimeter, pecahan bata merah ukuran 5-10 sentimeter, ijuk, serta arang. Pecahan batu tersebut disusun berongga.
  4. Saluran air hujan, untuk saluran air hujan, dapat digunakan pipa PVC berdiameter 110 milimeter, pipa beton berdiameter 200 milimeter, dan pipa beton setengah lingkaran berdiameter 200 milimeter.

Sumur resapan dapat dibuat oleh tukang pembuat sumur gali berpengalaman dengan memerhatikan persyaratan teknis dan spesifikasi tersebut. Menurut Rosyid, saat ini tidak hanya kota-kota besar yang perlu membuat sumur resapan, tetapi juga kota-kota di sepanjang tepi pantai, bahkan kota-kota di pedalaman seperti Yogyakarta, Bogor, Bandung, dan Solo. Rosyid mengingatkan, menyelamatkan air bagaimanapun bukanlah semata tugas negara atau pemerintah, tetapi juga tanggung jawab warga negara sendiri. Sebab, ketika air tanah kita kering dan air terpaksa harus dibeli, kita hanya akan memenuhi pundi-pundi perusahaan yang tanpa merasa bersalah memperdagangkan air. Sementara kita cuma bisa berkecut hati. (SF) Sumber : Kompas (5/6/05)

Read More......